Beranda / F1 / Setahun Tanpa Kemenangan di F1: Apa yang Terjadi dengan Oscar Piastri?

Setahun Tanpa Kemenangan di F1: Apa yang Terjadi dengan Oscar Piastri?

Oscar Piastri mengenakan baju balap McLaren di garasi pada musim F1 2026

Oscar Piastri belum meraih kemenangan lagi sejak Grand Prix Belanda 2025. Masalah ban, karakter mobil baru, hilangnya waktu di lintasan, dan meningkatnya performa Lando Norris turut menjelaskan penurunan performa pembalap McLaren tersebut.

Setahun lalu, Oscar Piastri meninggalkan Zandvoort dengan kemenangan dan status sebagai salah satu kandidat kuat untuk menjadi juara dunia Formula 1. Namun, 12 bulan kemudian, Grand Prix Belanda masih tercatat sebagai kemenangan terakhirnya.

Piastri sebenarnya menguasai sebagian besar persaingan F1 2025 dan sempat menjadi favorit utama dalam perebutan gelar. Namun, performanya menurun drastis pada fase akhir musim hingga Lando Norris berhasil membalikkan keadaan dan merebut gelar juara dunia.

Memasuki F1 2026, situasi Piastri tidak membaik. Pembalap asal Australia tersebut baru mengoleksi 2 podium dan semakin tertinggal dari Norris, yang telah meraih 2 kemenangan Grand Prix.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada salah satu penantang gelar terkuat musim lalu tersebut?


McLaren Mengawali F1 2026 dengan Sulit

Piastri bukan satu-satunya yang kesulitan beradaptasi pada awal musim. Perombakan besar regulasi teknis juga sempat membuat McLaren kehilangan posisi di barisan terdepan.

Setelah memenangi gelar pembalap dan konstruktor pada 2025, tim asal Woking tersebut gagal meraih kemenangan dalam 10 balapan pembuka musim 2026.

Piastri juga kehilangan kesempatan untuk mengumpulkan data penting karena gagal memulai dua balapan pertama. Kondisi tersebut sangat merugikannya karena seluruh pembalap harus mempelajari karakter mobil, ban, aerodinamika aktif, dan manajemen energi yang benar-benar baru.

McLaren akhirnya membawa sejumlah pembaruan pada pertengahan musim. Paket tersebut meningkatkan performa MCL40 secara signifikan dan mengantarkan tim meraih kemenangan beruntun di Hungaria dan Belanda.

Namun, Norris merebut kedua kemenangan tersebut. Piastri sempat bersaing untuk menang di Hungaria, tetapi kemacetan di lintasan dan kerusakan girboks menghentikan peluangnya.

Di Zandvoort, Piastri bahkan tidak mampu memberikan perlawanan langsung kepada rekan setimnya.


Masalah Piastri di Zandvoort Bukan Sepenuhnya Kesalahannya

Oscar Piastri mengendarai McLaren di depan Lewis Hamilton pada GP Belanda 2026
Oscar Piastri berada di depan Lewis Hamilton pada GP Belanda 2026 sebelum kehilangan kecepatan dan finis di posisi keenam.

Piastri memulai Grand Prix Belanda dari posisi keempat dan sempat naik ke posisi ketiga setelah balapan dimulai kembali. Ia juga menunjukkan kecepatan yang kompetitif pada stint pertamanya.

Masalah muncul ketika McLaren memanggilnya masuk untuk merespons pit stop George Russell. Proses pergantian ban yang berlangsung lambat membuat Piastri kembali ke lintasan di belakang pembalap Mercedes tersebut.

Setelah memasang set kedua ban hard, Piastri gagal mempertahankan kecepatan. Lewis Hamilton dan Charles Leclerc kemudian menyalipnya sebelum ia menyelesaikan balapan di posisi keenam.

Piastri tertinggal lebih dari 32 detik dari Norris, pemenang balapan.

Kepala tim McLaren, Andrea Stella, menegaskan bahwa hasil tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan performa Piastri.

“Ketika kami melakukan pit stop untuk merespons Russell, kami kehilangan posisi karena proses yang lambat. Itu menjadi tanggung jawab tim, bukan Oscar,” jelas Stella.

McLaren juga gagal membawa ban hard Piastri ke jendela kerja yang tepat pada stint berikutnya. Ban tersebut terus menghasilkan tingkat cengkeraman yang sangat rendah, berbeda dengan set pertama yang ia gunakan.

“Begitu Anda tidak mengoptimalkan semuanya, Anda bisa langsung berada di posisi keenam. Formula 1 sangat brutal dari sudut pandang tersebut,” tambahnya.


Piastri Tertinggal Jauh dari Lando Norris

Perbedaan performa kedua pembalap McLaren terlihat jelas dalam klasemen.

Norris menempati posisi keempat dengan 159 poin, sedangkan Piastri berada di posisi ketujuh dengan 104 poin. Dengan demikian, Piastri tertinggal 3 peringkat dan 55 poin dari rekan setimnya.

Norris juga telah mengoleksi 4 podium, termasuk 2 kemenangan Grand Prix. Piastri baru dua kali naik podium dan belum pernah menang sepanjang musim ini.

Setelah balapan di Zandvoort, Piastri mengakui bahwa ia belum mengetahui penyebab utama penurunan performanya.

“Lap pertama setelah red flag berjalan dengan baik, dan stint pertama terasa cukup baik. Namun, setelah itu saya tidak memiliki kecepatan sama sekali,” ujarnya kepada Sky Sports F1.

“Saya tidak tahu mengapa. Ada banyak hal yang harus kami selidiki.”


Mengapa Oscar Piastri Kesulitan di F1 2026?

Tidak ada satu penyebab tunggal yang sepenuhnya menjelaskan penurunan performa Piastri. Sejumlah faktor teknis dan situasional saling berkaitan.

1. Kehilangan Data pada Awal Musim

Piastri gagal memulai dua balapan pertama musim ini. Ia bukan hanya kehilangan kesempatan meraih poin, tetapi juga kehilangan dua akhir pekan penuh untuk memahami mobil generasi baru.

Situasi itu sangat merugikan karena regulasi 2026 mengubah hampir semua aspek mobil Formula 1. Pembalap harus mempelajari cara baru mengelola ban, aerodinamika aktif, serta pembagian tenaga antara mesin pembakaran internal dan sistem listrik.

Ketika Norris terus mengumpulkan data dan pengalaman, Piastri harus mengejar proses adaptasi yang sudah tertinggal.

2. Kesulitan dalam Kondisi Cengkeraman Rendah

Andrea Stella mengakui bahwa Piastri membutuhkan penyesuaian yang lebih besar ketika mobil menghasilkan tingkat cengkeraman yang rendah.

Masalah serupa sebenarnya sudah terlihat di Meksiko dan Austin pada musim 2025. Namun, karakter mobil F1 2026 membuat kelemahan tersebut semakin terasa.

Mobil generasi baru menghasilkan downforce yang lebih rendah dan bergerak lebih tidak stabil dibandingkan pendahulunya. Kondisi itu memaksa pembalap untuk lebih agresif dalam mengendalikan mobil di tikungan.

Karakter tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan gaya alami Piastri yang halus dan mengandalkan gerakan mobil yang mudah diprediksi.

3. Piastri Belum Bisa Mengemudi dengan Insting

Stella menilai Piastri harus berpikir lebih keras saat menyesuaikan gaya mengemudinya dengan kondisi mobil. Proses tersebut membuatnya tidak bisa sepenuhnya mengandalkan insting.

“Proses itu membutuhkan sedikit upaya mental dan membuatnya kehilangan beberapa sepersepuluh detik,” jelas Stella dalam wawancara yang dimuat di Formula 1.

Stella menekankan bahwa masalah tersebut bersifat teknis dan tidak berkaitan dengan kondisi psikologis Piastri.

Ketika karakter mobil sesuai dengan ekspektasinya, Piastri bisa mengemudi dengan lebih alami. Namun, saat tingkat cengkeraman menurun atau respons mobil berubah, ia harus memproses lebih banyak informasi sebelum menentukan cara menikung.

Dalam persaingan yang hanya memisahkan beberapa tim dengan selisih sepersepuluh detik, proses tersebut sudah cukup untuk membuatnya kehilangan beberapa posisi.

4. Regulasi Baru Mengubah Cara Pembalap Mengelola Energi

Regulasi F1 2026 meningkatkan porsi tenaga listrik hingga mendekati 50 persen dari total tenaga mobil.

Pembalap kini harus memperhatikan waktu yang tepat untuk mengisi ulang dan menggunakan energi baterai. Mereka juga harus mengatur Boost, Recharge, Overtake Mode, serta aerodinamika aktif selama satu putaran.

Tuntutan tersebut berpotensi mengurangi keunggulan Piastri di tikungan berkecepatan tinggi. Pada musim sebelumnya, area tersebut menjadi salah satu kekuatan utamanya dibandingkan dengan Norris.

Piastri sekarang harus menyeimbangkan kecepatan saat masuk tikungan dengan kebutuhan untuk memulihkan energi dan menjaga tenaga listrik untuk bagian lain di lintasan.


Bisakah Piastri Kembali Menang pada F1 2026?

Musim ini Piastri memang mengkhawatirkan, tetapi terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa ia telah kehilangan kemampuan untuk bersaing di barisan depan.

Kecepatannya pada stint pertama di Zandvoort menunjukkan bahwa potensi tersebut masih ada. McLaren juga mengakui bahwa hasil akhirnya tidak mencerminkan seluruh performa yang ia tampilkan sepanjang akhir pekan.

Pembaruan terbaru telah membawa MCL40 kembali ke persaingan untuk meraih kemenangan. Jika McLaren mampu memperluas jendela kerja mobil dan membantu Piastri menemukan pengaturan yang sesuai dengan gaya mengemudinya, peluang untuk kembali naik ke podium tertinggi tetap terbuka.

Namun, Piastri juga harus mempercepat proses adaptasinya. Dengan 11 balapan tersisa, ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan dari Norris dan membuktikan bahwa performa kuatnya pada 2025 bukan sekadar momentum sesaat.

Piastri belum kehilangan kecepatannya. Untuk kembali menang, ia harus menemukan cara agar karakter alami gaya mengemudinya bekerja selaras dengan tuntutan mobil F1 generasi baru.


Foto: Formula 1

Pantau terus Klasemen Formula 1 2026

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top 5 Klasemen MotoGP

PosRiderPoin
1 🇪🇸 Jorge Martín Aprilia Racing306
2 🇪🇸 Marc Marquez Ducati Lenovo Team294
3 🇮🇹 Marco Bezzecchi Aprilia Racing264
4 🇪🇸 Pedro Acosta Red Bull KTM Factory Racing234
5 🇮🇹 Fabio Di Giannantonio Pertamina Enduro VR46 Racing230
Lihat Klasemen Lengkap

Top 5 Klasemen F1

PosDriverPoin
1 🇮🇹 Andrea Kimi Antonelli Mercedes292
2 🇬🇧 George Russell Mercedes211
3 🇬🇧 Lewis Hamilton Ferrari191
4 🇬🇧 Lando Norris McLaren186
5 🇲🇨 Charles Leclerc Ferrari167
Lihat Klasemen Lengkap