Beranda / F1 / Siapa Sebenarnya Pemilik Setiap Tim F1?

Siapa Sebenarnya Pemilik Setiap Tim F1?

Deretan mobil Formula 1 berlomba di lintasan pada musim F1 2026

Nama yang terpampang paling besar di mobil belum tentu merupakan pemilik tim. Di balik 11 tim F1 2026, ada keluarga, produsen mobil, dana investasi negara, hingga miliarder yang melihat tim balap sebagai aset bernilai fantastis.

Siapa yang paling diuntungkan ketika nilai sebuah tim Formula 1 melonjak? Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tinggal lihat nama timnya, bukan?

Ternyata tidak.

Mastercard bukan pemilik McLaren. Petronas tidak memiliki Mercedes. Oracle tidak membeli Red Bull Racing. Toyota juga tidak mengambil alih Haas, meski namanya kini sudah masuk dalam identitas resmi tim.

Bahkan nama pabrikan pun bisa menyesatkan. Aston Martin F1 memakai nama Aston Martin, tetapi perusahaan mobil jalan raya tersebut tidak memiliki tim tersebut. Cadillac memang merek General Motors, tetapi struktur kepemilikan tim F1-nya tidak berhenti pada GM.

F1 modern memang sudah jauh dari masa ketika nama di atas garasi biasanya sama dengan orang yang mendirikan, membiayai, dan memimpin tim. Kini satu tim bisa memiliki pemegang saham, pihak pengendali, sponsor utama, pemasok mesin, dan prinsipal yang semuanya berbeda.

Secara sederhana, ada 3 alasan mengapa seseorang atau perusahaan ingin memiliki tim F1.

Pertama, mereka memang ingin balapan dan menang. Kedua, F1 digunakan untuk membantu bisnis lain, seperti menjual mobil, minuman energi, teknologi, atau membangun citra merek. Ketiga, tim balap itu sendiri dipandang sebagai investasi yang nilainya dapat terus meningkat.

Sebagian besar tim di grid 2026 merupakan campuran ketiganya. 


Aston Martin: Lawrence Stroll Mengendalikan Tim Tanpa Harus Memiliki Semuanya

Fernando Alonso bersama Aston Martin pada musim F1 2026
Lawrence Stroll memimpin kelompok pemegang saham pengendali Aston Martin F1 Team.

Jika melihat nama di pintu pabrik, orang mungkin mengira Aston Martin F1 dimiliki oleh perusahaan mobil Aston Martin Lagonda. Kenyataannya, keduanya adalah badan usaha yang berbeda.

Tim F1 berada di bawah kelompok perusahaan yang dikendalikan oleh Lawrence Stroll. Ia bukan satu-satunya investor, tetapi tetap menjadi pihak yang memegang kendali. Dalam pernyataan resmi tim, Stroll disebut sebagai controlling shareholder sekaligus executive chairman.

Ini merupakan contoh penting bahwa memiliki saham paling banyak dan mengendalikan perusahaan tidak selalu berarti hal yang sama. Stroll telah mengundang banyak modal dari luar, termasuk lembaga investasi, dana negara, pengusaha Amerika Serikat, dan bahkan Adrian Newey, tanpa menyerahkan kendali atas arah tim.

Dengan kata lain, ia tidak harus membeli setiap bagian Aston Martin F1 untuk tetap duduk di kursi pengemudi secara bisnis.

Perusahaan mobil Aston Martin hanya memberikan identitas merek kepada tim. Pada 2026, hak penggunaan nama Aston Martin di F1 bahkan dibeli secara permanen oleh kelompok perusahaan tim. Jadi, walaupun logo dan namanya sama, tim balap itu bukan anak perusahaan produsen mobil jalan raya Aston Martin.

Aramco adalah mitra utama dan Honda memasok power unit. Keduanya penting bagi proyek tersebut, tetapi bukan pihak yang mengendalikan tim.


Ferrari: Dimiliki Banyak Orang, tetapi Dipengaruhi Sedikit Pihak

Charles Leclerc bersama Scuderia Ferrari pada musim F1 2026
Scuderia Ferrari merupakan bagian dari perusahaan publik Ferrari N.V.

Ferrari terlihat seperti tim keluarga. Nama Enzo Ferrari masih hidup di setiap sudut Maranello, sementara putranya, Piero Ferrari, masih berada dalam struktur perusahaan.

Namun, secara hukum Ferrari adalah perusahaan publik. Saham Ferrari N.V. diperdagangkan di bursa sehingga ribuan investor dapat menjadi pemilik sebagian kecil perusahaan dan Scuderia Ferrari berada langsung di dalam perusahaan tersebut.

Meski demikian, pengaruh tersebut tidak tersebar secara merata. Exor, perusahaan investasi keluarga Agnelli yang dipimpin oleh John Elkann, menjadi pemegang saham terbesar. Piero Ferrari juga tetap memiliki pengaruh besar. Sistem hak suara loyalitas Ferrari membuat keduanya mempunyai kekuatan suara yang lebih besar daripada porsi saham biasa mereka.

Jadi, dua jawaban dapat sama-sama benar: Ferrari dimiliki publik, tetapi arah perusahaan masih sangat dipengaruhi oleh keluarga Agnelli dan Ferrari.

Ada satu perbedaan penting dibandingkan dengan banyak rivalnya. Scuderia Ferrari bukan perusahaan F1 terpisah yang bisa dengan mudah dijual sendiri. Tim balap tersebut merupakan bagian dari bisnis Ferrari yang lebih luas. Ketika seseorang mengatakan “tim F1 Ferrari bernilai sekian miliar dolar”, nilai itu tidak bisa dipisahkan begitu saja dari perusahaan Ferrari secara keseluruhan.

Meski namanya pernah begitu dekat dengan Fiat, Ferrari sudah berdiri sebagai perusahaan terpisah sejak 2016. Ferrari F1 bukan milik Fiat atau Stellantis. HP juga hanya sponsor utama.


Red Bull Racing dan Racing Bulls: Dua Tim untuk Satu Kerajaan Bisnis

Max Verstappen bersama Red Bull Racing pada musim F1 2026
Red Bull Racing dimiliki Red Bull GmbH, bukan Oracle ataupun Ford.

Red Bull memiliki sesuatu yang tidak dimiliki peserta lain: dua tim di grid yang sama.

Red Bull Racing dan Racing Bulls adalah konstruktor terpisah, memiliki mobil sendiri, dan harus bertanding sebagai dua peserta yang berbeda. Namun, keduanya pada akhirnya berada di bawah Red Bull GmbH—bahkan Visa menyebut keduanya sebagai dua tim F1 milik Red Bull.

Ini mungkin contoh paling jelas tentang perusahaan yang menggunakan F1 untuk memperkuat bisnis utamanya. Red Bull tidak menciptakan minuman energi untuk membiayai balapan. Sebaliknya, perusahaan itu membeli tim balap untuk membuat mereknya semakin besar.

Strategi tersebut berjalan luar biasa. Red Bull bukan hanya menjadi sponsor yang menempelkan logo pada mobil orang lain. Ia memiliki tim, fasilitas teknologi, dan proyek power unit sendiri. Racing Bulls juga berfungsi sebagai tempat untuk mengembangkan pembalap sebelum mereka dipertimbangkan untuk naik ke tim utama.

Oracle tidak memiliki Red Bull Racing dan Ford tidak membeli saham tim. Oracle adalah sponsor utama, sedangkan Ford menjadi mitra teknis untuk proyek power unit. Di Racing Bulls, Visa dan Cash App juga membeli hak penamaan komersial, bukan kepemilikan.

Di balik perusahaan induknya terdapat kepentingan keluarga Mateschitz dan Yoovidhya. Namun, untuk menjawab siapa pemilik kedua tim F1 tersebut, jawabannya tetap sama: Red Bull GmbH.


Mercedes: Tiga Pemilik Berbagi Kemudi

Andrea Kimi Antonelli bersama Mercedes pada musim F1 2026
Kepemilikan Mercedes F1 dibagi antara Mercedes-Benz, INEOS, dan kendaraan investasi Toto Wolff.

Di tingkat tim, kepemilikan Mercedes jauh lebih mudah dipahami.

Mercedes-Benz, perusahaan kimia INEOS milik Jim Ratcliffe, dan kendaraan investasi Toto Wolff memiliki porsi yang sama besar. Struktur 3 arah ini berlaku sejak INEOS menjadi pemegang saham pada akhir 2020.

Toto Wolff bukan sekadar prinsipal yang berdiri di pit wall. Ia juga salah satu pemilik dan CEO tim. Namun, pada 2025 muncul catatan baru ketika pendiri CrowdStrike, George Kurtz, membeli sebagian kecil dari kendaraan investasi Wolff.

Kurtz tidak membeli saham secara langsung dari seluruh tim Mercedes. Ia berinvestasi melalui bagian milik Wolff, sementara kendali dan struktur utama tim tidak berubah. Wolff tetap memimpin operasional sekaligus mewakili blok kepemilikannya.

Petronas, meski namanya sudah lama melekat pada identitas Mercedes F1, merupakan sponsor utama. Bukan pemilik.


McLaren: Warna Papaya dengan Modal Bahrain dan Abu Dhabi

McLaren F1 pada musim Formula 1 2026
Mumtalakat menjadi pemilik mayoritas McLaren Racing, sedangkan CYVN memegang saham nonpengendali.

Bruce McLaren mendirikan tim ini pada 1963. Namun, keluarga McLaren tidak lagi memilikinya.

Kini pemegang saham mayoritas McLaren Racing adalah Mumtalakat, dana investasi milik Kerajaan Bahrain. Pemilik lainnya adalah CYVN, perusahaan investasi yang terhubung dengan Abu Dhabi dan memegang posisi nonpengendali.

Struktur tersebut menjadi lebih sederhana setelah sejumlah investor lama keluar pada 2025. McLaren mengumumkan bahwa Mumtalakat dan CYVN menjadi 2 kelompok pemilik yang tersisa, meski pembagian persentase tepat di antara keduanya tidak dipublikasikan.

Zak Brown menjalankan McLaren Racing sebagai CEO, tetapi ia bukan pemilik utama. Mastercard juga hanya membeli hak penamaan tim F1.

Hal lain yang kerap membingungkan adalah perbedaan antara McLaren Racing dan McLaren Automotive. Bisnis balap menaungi bukan hanya tim F1, tetapi juga program IndyCar dan proyek balap ketahanan. Jadi, ketika nilai McLaren Racing dibahas, yang dihitung bukan sekadar dua mobil papaya yang tampil setiap akhir pekan Grand Prix.

McLaren kini menjadi salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana modal negara masuk ke dunia olahraga global: warisan tim Inggris dibangun kembali dengan dukungan investasi dari Bahrain dan Abu Dhabi.


Cadillac: Memakai Nama GM, tetapi Dikendalikan TWG

Valtteri Bottas bersama Cadillac F1 pada musim 2026
Cadillac F1 dikendalikan TWG, sementara General Motors juga menjadi pemilik saham.

Jika ditanya siapa pemilik Cadillac F1, jawaban spontan kebanyakan orang mungkin adalah General Motors.

Jawaban itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga belum lengkap.

Cadillac masuk ke F1 melalui kerja sama antara General Motors dan TWG Motorsports. FIA dan Formula 1 juga menggambarkan peserta ke-11 itu sebagai proyek bersama kedua pihak.

GM bukan hanya pemberi nama atau mitra mesin; perusahaan tersebut juga mempunyai kepentingan ekuitas di dalam tim. Namun, catatan perusahaan Inggris menunjukkan Mark Walter—tokoh di balik TWG—sebagai pihak yang memiliki pengaruh atau kendali yang signifikan.

Artinya, Cadillac adalah proyek bersama, tetapi kendali korporasi yang terlihat secara publik berada di kubu TWG. Pembagian kepemilikan antara TWG dan GM tidak diumumkan.

Struktur ini mencerminkan wajah baru F1: merek mobil besar menyediakan identitas, teknologi, dan legitimasi pabrikan, sementara kelompok investasi olahraga menyediakan modal serta organisasi untuk membangun tim.

Nama Andretti memang berperan besar sejak awal proyek ini. Namun, Michael Andretti tidak lagi mengendalikan tim yang akhirnya masuk ke grid. Cadillac F1 2026 adalah proyek TWG dan General Motors, bukan sekadar kelanjutan dari Andretti Autosport.


Audi: Tim Pabrikan dengan Investor dari Qatar

Audi Revolut F1 Team pada musim Formula 1 2026
Audi mengendalikan tim, dengan Qatar Investment Authority sebagai investor minoritas.

Audi mengubah Sauber menjadi tim pabrikan penuh mulai musim 2026. Karena itu, jawabannya memang singkat: Audi mengendalikan tim.

Namun, proyek tersebut tidak sepenuhnya dibiayai sendiri. Sebelum mobil Audi tampil di grid, Qatar Investment Authority masuk sebagai investor minoritas terbesar di Sauber Holding. Audi menyebutnya sebagai suntikan modal penting untuk pengembangan infrastruktur dan proyek F1.

Inilah bentuk kepemilikan hibrida yang semakin umum. Audi tetap memegang arah teknis dan identitas tim pabrikan, sementara dana kekayaan negara ikut menanamkan modal karena melihat potensi bisnis F1.

Audi sendiri berada di bawah Volkswagen Group. Sementara itu, Revolut membeli posisi sponsor utama dan masuk ke nama resmi tim, tetapi tidak diumumkan sebagai pemilik.


Alpine: Renault Masih Menjadi Bosnya

Alpine F1 Team pada musim Formula 1 2026
Renault Group memiliki 76 persen Alpine Racing dan kelompok investor pimpinan Otro Capital memegang 24 persen.

Nama Alpine kadang membuat orang lupa bahwa tim ini masih berada di bawah Renault Group.

Renault memang telah menjual sebagian kecil dari bisnis Alpine Racing kepada kelompok investor yang dipimpin oleh Otro Capital. Kelompok tersebut menarik perhatian karena melibatkan sejumlah selebritas dan atlet terkenal. Namun, mereka bukanlah pihak yang mengambil alih tim.

Renault tetap memegang mayoritas yang jelas dan mempertahankan kendali atas keputusan-keputusan besar. Investor luar membawa modal serta jaringan komersial, tetapi Alpine tetap merupakan proyek balap milik Renault.

Peralihan Alpine ke power unit Mercedes pada 2026 juga tidak mengubah kepemilikan. Mercedes memasok mesin, bukan membeli tim.

Alpine menunjukkan bagaimana produsen dapat mencairkan sebagian nilai dari tim F1 tanpa kehilangan kendali. Renault memperoleh investasi baru; para investor mendapat bagian dari aset yang nilainya terus naik, dan tim tetap berjalan di bawah payung pabrikan Prancis tersebut.


Williams: dari Tim Keluarga Menjadi Aset Investasi

Williams Racing pada musim Formula 1 2026
Williams Racing berada di bawah kepemilikan Dorilton Capital sejak 2020.

Selama puluhan tahun, Williams identik dengan Frank Williams. Ia membangun tim karena ingin balapan dan menang, bukan karena F1 menjadi bagian dari strategi pemasaran perusahaan lain.

Era itu berakhir pada 2020 ketika keluarga Williams menjual tim kepada Dorilton Capital.

Dorilton bukan produsen mobil, pemasok mesin, atau perusahaan minuman energi. Ia merupakan perusahaan investasi. Karena itu, Williams mungkin menjadi contoh paling bersih dari tim F1 yang bisnis balapnya sendiri dipandang sebagai aset.

Namun, menyebut Dorilton sebagai investor bukan berarti tim tersebut hanya dibeli untuk kemudian dijual kembali. Pihak-pihak yang mewakili Dorilton berulang kali menegaskan ambisi untuk mengembalikan Williams ke barisan depan, dan investasi besar telah dilakukan untuk memperbarui fasilitas serta organisasi tim.

Yang tetap tertutup adalah siapa saja pemodal akhir di balik struktur Dorilton. Informasi publik tidak memberikan gambaran yang lengkap tentang investor individu. Jadi, jawaban resminya sederhana: Williams dimiliki oleh Dorilton Capital, meski sumber modal di belakangnya tidak setransparan Ferrari atau Mercedes.

James Vowles menjalankan tim sebagai prinsipal. Atlassian menjadi sponsor utama. Keluarga Williams tidak lagi mempunyai kepemilikan.


Haas: Pemilik Paling Tradisional yang Masih Tersisa

TGR Haas F1 Team pada musim Formula 1 2026
Haas tetap dimiliki Gene Haas, sementara Toyota Gazoo Racing berstatus sponsor utama dan mitra teknis.

Setelah berbagai dana negara, perusahaan publik, kelompok investasi, dan struktur berlapis, Haas terasa sangat sederhana.

Gene Haas mendirikan timnya. Gene Haas membiayainya. Dan Gene Haas masih menjadi pemiliknya.

Haas adalah peserta yang paling dekat dengan model klasik F1: seorang pengusaha membangun tim karena ingin ikut balapan. Tidak ada konsorsium besar atau pembagian kendali dengan pabrikan lain.

Masuknya Toyota Gazoo Racing ke dalam nama resmi tim pada 2026 tidak mengubah hal tersebut. Toyota menjadi sponsor utama dan mitra teknis, sedangkan Ferrari tetap memasok power unit serta sejumlah komponen. Keduanya tidak diumumkan sebagai pemegang saham Haas.

Ayao Komatsu memimpin tim dari sisi operasional. Namun, ketika pertanyaannya adalah siapa pemilik Haas, hanya satu nama yang dibutuhkan.

Gene Haas.


Jadi, Seperti Apa Pemilik Tim F1 pada 2026?

Tidak ada satu model pun yang berlaku untuk seluruh grid.

Gene Haas masih mewakili pemilik tradisional yang ingin memiliki tim balap sendiri. Red Bull menggunakan dua tim untuk memperkuat kerajaan bisnisnya. Ferrari dan Audi menjadikan F1 sebagai bagian dari identitas merek mobil. Dorilton melihat Williams sebagai bisnis olahraga yang memiliki nilai sendiri. Sementara Aston Martin, McLaren, Alpine, dan Mercedes menggabungkan modal strategis dengan investasi finansial.

Perubahan terbesar bukan sekadar semakin banyaknya investor. Tim F1 kini cukup berharga sehingga pemilik tidak harus memilih antara mempertahankan semuanya atau menjual semuanya.

Mereka bisa melepas sebagian kepemilikan, mendapatkan modal segar, dan tetap memegang kendali. Itulah yang dilakukan Lawrence Stroll di Aston Martin, Renault di Alpine, Audi bersama investor Qatar, dan Toto Wolff saat membuka sebagian dari kendaraan investasinya.

Bagi investor baru, daya tariknya juga mudah dipahami. Hanya ada 11 tim di grid, sementara kesempatan untuk membeli salah satunya sangat jarang. Ketika popularitas dan pendapatan F1 meningkat, kepemilikan kecil pun bisa berubah menjadi aset yang sangat bernilai.

Itulah sebabnya logo terbesar pada mobil sering kali bukan jawaban atas pertanyaan siapa pemiliknya. Di F1 modern, pihak yang memberi nama, memasok mesin, menjalankan tim, menanamkan uang, dan memegang kendali bisa menjadi lima pihak yang berbeda.

Dan untuk benar-benar mengetahui siapa yang berkuasa, kita harus melihat lebih jauh dari sekadar livery mobil.


Foto: XPB Images

Pantau terus Klasemen Formula 1 2026

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top 5 Klasemen MotoGP

PosRiderPoin
1 🇪🇸 Marc Marquez Ducati Lenovo Team365
2 🇪🇸 Jorge Martín Aprilia Racing355
3 🇮🇹 Marco Bezzecchi Aprilia Racing315
4 🇯🇵 Ai Ogura Trackhouse MotoGP Team263
5 🇪🇸 Pedro Acosta Red Bull KTM Factory Racing263
Lihat Klasemen Lengkap

Top 5 Klasemen F1

PosDriverPoin
1 🇮🇹 Andrea Kimi Antonelli Mercedes340
2 🇬🇧 George Russell Mercedes238
3 🇬🇧 Lewis Hamilton Ferrari229
4 🇳🇱 Max Verstappen Red Bull Racing221
5 🇲🇨 Charles Leclerc Ferrari215
Lihat Klasemen Lengkap