Pecco Bagnaia hanya menyelesaikan 5 dari 10 balapan utama MotoGP terakhir. Namun, 4 dari 5 balapan yang berhasil ia tuntaskan justru berakhir di podium.
Performa Francesco “Pecco” Bagnaia dalam 10 balapan utama MotoGP terakhir berjalan seperti roller coaster. Sejak GP Spanyol hingga GP Aragón 2026, pembalap Ducati Lenovo tersebut mencatatkan hasil:
DNF – DNF – P3 – P3 – P3 – P3 – DNF – P6 – DNF – DNF.
Artinya, Bagnaia gagal menyelesaikan separuh dari 10 balapan utama terakhirnya. Di sisi lain, ketika berhasil mencapai garis finis, juara dunia MotoGP dua kali itu hampir selalu naik podium.
Perlu dicatat, statistik tersebut hanya mencakup balapan utama pada hari Minggu, bukan Sprint. Bagnaia bahkan sempat memenangi Sprint GP Ceko di Brno di tengah periode tersebut.
Lantas, apa yang terjadi dalam setiap balapan?
GP Spanyol: Masalah Teknis pada Sistem Pengereman
Rangkaian buruk Bagnaia dimulai di Circuito de Jerez pada 26 April 2026. Ia sempat naik ke posisi kesembilan dan menilai finis di tujuh besar masih memungkinkan.
Namun, masalah teknis yang sudah terasa sejak awal terus memburuk. Memasuki lap ke-13, Bagnaia tidak lagi dapat memperlambat dan menghentikan motornya dengan baik, sehingga terpaksa kembali ke pit.
Ducati tidak mengungkap komponen yang bermasalah secara spesifik, tetapi insiden tersebut disebut berkaitan dengan sistem pengereman depan. Bagnaia pun mencatatkan DNF pertamanya dalam periode ini.
GP Prancis: Terjatuh dari Posisi Kedua
Bagnaia sebenarnya menunjukkan performa yang jauh lebih kompetitif di Le Mans. Ia merebut pole position, meski start yang kurang sempurna membuatnya turun ke urutan kelima pada lap pertama.
Pecco kemudian bangkit dan merebut posisi kedua pada lap ketujuh. Ia bahkan berada kurang dari satu detik di belakang Marco Bezzecchi saat memasuki lap ke-16.
Sayangnya, masalah teknis yang tidak dijelaskan secara terperinci membuat kepercayaan dirinya terhadap bagian depan motor terus menurun. Bagnaia akhirnya kehilangan kendali pada ban depan di Tikungan 3 dan terjatuh.
Menurut Bagnaia, kecelakaan itu bukan sekadar kesalahan pembalap. Ducati juga mengakui adanya masalah yang membuatnya kehilangan rasa percaya diri pada bagian depan Desmosedici GP26.
GP Catalunya: Podium setelah Balapan Penuh Kekacauan
GP Catalunya menjadi awal dari 4 podium beruntun Bagnaia. Namun, balapan di Barcelona tersebut berlangsung sangat kacau dan harus dihentikan dua kali karena red flag.
Bagnaia ikut terseret dalam insiden yang memicu red flag kedua meski tidak melakukan kesalahan. Benturan keras membuatnya sakit dan pusing, tetapi ia tetap mengikuti restart menggunakan motor kedua yang hampir belum pernah dikendarainya, dengan ban bekas.
Pecco finis keempat di lintasan sebelum naik ke posisi ketiga setelah Joan Mir menerima penalti 16 detik akibat pelanggaran tekanan ban.
GP Italia: Memimpin sebelum Grip Ban Belakang Menurun
Di Mugello, Bagnaia kembali terlihat sebagai penantang kemenangan. Memulai balapan dari baris kedua, ia melakukan start yang bagus dan mengambil alih posisi pertama pada awal lap ketiga.
Bagnaia memimpin lebih dari separuh jarak balapan. Namun, grip ban belakangnya mulai menurun sehingga Marco Bezzecchi dan Jorge Martín berhasil melewatinya.
Alih-alih mengambil risiko berlebihan, Pecco memilih untuk menjaga ban dan mempertahankan posisi ketiga. Kendati naik podium di kandang, ia mengakui masalah grip dan keausan ban masih belum terselesaikan.
GP Hungaria: Selamat dari Insiden Tikungan Pertama
Bagnaia kembali finis ketiga di Balaton Park. Ia berhasil menghindari insiden di Tikungan 1 sebelum naik ke posisi ketiga pada lap pembuka.
Namun, Pecco tidak mampu menyamai catatan waktu Marc Márquez dan Pedro Acosta di depan. Masalah grip kembali membatasi performanya, sehingga ia memilih mengelola gap dengan rombongan di belakangnya.
Hasil tersebut menjadi podium ketiga Bagnaia secara beruntun, tetapi belum menunjukkan bahwa masalah utama pada motornya telah benar-benar teratasi.
GP Ceko: Memimpin 15 Lap dan Menang Sprint
Akhir pekan di Brno menjadi penampilan terbaik Bagnaia dalam rangkaian 10 Grand Prix tersebut. Ia memenangi Sprint pada hari Sabtu, lalu memimpin 15 lap pertama dalam balapan utama.
Namun, performanya kembali menurun setelah ban mulai aus. Marc Márquez dan Ai Ogura mampu melewatinya, sementara tekanan udara dari motor di depan membuat ban depan Ducati Bagnaia nyaris kehilangan grip beberapa kali.
Pecco akhirnya mempertahankan posisi ketiga dari serangan Fabio Di Giannantonio. Itu menjadi podium keempatnya secara beruntun sekaligus podium terakhirnya sebelum performanya kembali memburuk.
GP Belanda: Kembali Bermasalah saat Berada di Posisi Keempat
Di Assen, Bagnaia berada di posisi keempat ketika motornya kembali mengalami masalah teknis pada lap ke-15.
Pecco mengaku kesulitan memperlambat dan menghentikan motor. Kondisinya kemudian menjadi terlalu sulit dan berbahaya untuk melanjutkan balapan, sehingga ia kembali masuk ke pit.
Ducati hanya menyebutnya sebagai masalah teknis. Sejumlah laporan menduga gangguan tersebut kembali berkaitan dengan pengereman, tetapi Bagnaia menolak mengungkap penyebab pastinya.
GP Jerman: Finis Keenam dengan Masalah yang Sama
Bagnaia berhasil menyelesaikan balapan di Sachsenring, tetapi hanya finis di posisi keenam. Ia naik dua posisi setelah start dan sempat memperebutkan urutan kelima dengan Jorge Martín pada fase akhir.
Meski demikian, Pecco kembali tidak mampu memanfaatkan bagian belakang motor tanpa membuatnya terus meluncur dan kehilangan grip.
Posisi keenam bukan hasil buruk jika melihat kesulitannya sepanjang akhir pekan. Namun, hasil tersebut menegaskan bahwa empat podium sebelumnya belum diikuti oleh penyelesaian permanen atas masalah Desmosedici GP26.
GP Inggris: Crash Aneh yang Tidak Bisa Dijelaskan

Silverstone menjadi salah satu akhir pekan terburuk bagi Bagnaia dalam MotoGP 2026. Ia hanya menempati posisi ke-16 di grid dan kesulitan mendekati sepuluh besar sepanjang akhir pekan.
Dalam balapan utama, Bagnaia berada di posisi ke-15 ketika tiba-tiba kehilangan ban depan saat keluar dari Tikungan 7 atau Luffield pada lap kesembilan.
Kecelakaan tersebut membuatnya kebingungan karena ia mengaku belum pernah kehilangan bagian depan motor dengan cara seperti itu saat keluar dari tikungan. Analisis data Ducati juga tidak secara langsung menemukan penyebab yang jelas.
Pecco memang baru kembali setelah menjalani operasi pada lengan bawah kanannya saat jeda musim panas. Namun, ia tidak menyalahkan kondisi fisiknya dan menegaskan bahwa masalah utamanya tetap kurangnya grip.
GP Aragón: Grip Hilang setelah Lima Lap

Situasi Bagnaia semakin memburuk di MotorLand Aragón. Setelah gagal mencetak poin dalam Sprint, ia terjatuh pada lap keenam balapan utama saat berada di posisi ketujuh.
Bagian belakang motornya lebih dahulu bergeser di Tikungan 9. Ketika ban belakang kembali mendapatkan grip, beban berpindah dan membuat bagian depan terlipat.
Menurut Bagnaia, performa ban belakangnya sudah habis hanya setelah 5 lap, meski ia tidak sedang memaksakan kecepatan. Ia bahkan telah mengganti ke engine map dengan tenaga yang lebih rendah untuk mengurangi spin dan menjaga ban.
Kecelakaan tersebut membuatnya gagal mencetak poin dalam dua akhir pekan berturut-turut. Bagnaia kemudian menyebut situasi itu sebagai salah satu titik terendah dalam karier olahraganya.
Lima DNF Bagnaia Bukan Semuanya karena Kecelakaan
Dari lima DNF yang dialami Bagnaia dalam 10 balapan utama terakhir, dua terjadi karena ia kembali ke pit, yakni di Jerez dan Assen. Tiga lainnya berakhir dengan crash di Le Mans, Silverstone dan Aragón.
Namun, crash di Le Mans juga dipengaruhi oleh masalah teknis yang mengurangi kepercayaan dirinya terhadap bagian depan motor.
Bagnaia memperkirakan masalah teknis di Jerez, Le Mans dan Assen telah membuatnya kehilangan lebih dari 40 poin. Jika dihitung berdasarkan posisi Pecco saat ketiga masalah tersebut terjadi – P9, P2 dan P4 – total poin yang hilang tepat mencapai 40.
Masalah Grip Mengikuti Pecco Sepanjang Musim
Kurangnya grip belakang menjadi benang merah dari sebagian besar kesulitan Bagnaia bersama Ducati GP26.
Masalah tersebut sudah terlihat ketika ia memimpin di Mugello, membatasi kecepatannya di Hungaria dan Brno, lalu semakin parah setelah jeda musim panas. Tanpa grip belakang yang memadai, Pecco kesulitan menggunakan roda belakang untuk membantu menghentikan dan membelokkan motor.
Akibatnya, beban yang diterima ban depan semakin besar. Ban belakang juga lebih mudah mengalami spin dan kehilangan performa meskipun Bagnaia tidak sedang mengejar catatan waktu agresif.
Situasinya berbeda dengan beberapa pembalap Ducati lain yang mampu mendapatkan grip yang lebih baik dari motor mereka. Perbedaan inilah yang membuat Ducati dan Bagnaia kesulitan menemukan solusi melalui perubahan setup maupun pengaturan elektronik.
Statistik Pecco Bagnaia dalam 10 Balapan Utama Terakhir
Dalam 10 Grand Prix sejak Jerez hingga Aragón, Bagnaia mencatatkan:
- Lima DNF atau tingkat kegagalan finis sebesar 50 persen.
- Empat podium, semuanya di posisi ketiga.
- Satu kali finis keenam.
- Tanpa kemenangan balapan utama.
- Total 74 poin dari balapan hari Minggu.
- Sebanyak 64 dari 74 poin tersebut diperoleh selama 4 podium beruntun.
- Tiga DNF dalam empat balapan utama terakhir.
- Dua akhir pekan berturut-turut tanpa poin di Silverstone dan Aragón.
Menjelang GP San Marino, Bagnaia masih berada di peringkat kedelapan klasemen MotoGP 2026 dengan 143 poin. Ia tertinggal 113 poin dari pemimpin kejuaraan, Jorge Martín, yang telah mengoleksi 256 poin.
Catatan tersebut menghasilkan kontras besar: ketika berhasil menyelesaikan balapan, Bagnaia hampir selalu berada di enam besar dan empat kali naik podium. Namun, dalam separuh dari 10 Grand Prix terakhir, ia bahkan tidak berhasil mencapai garis finis.
Misano kini menjadi ujian berikutnya. Bagnaia memiliki 2 kemenangan dan 5 podium dari 10 penampilannya di sana sebelum musim 2026. Namun, dengan masalah grip yang semakin parah sejak Silverstone, status sebagai pembalap tuan rumah belum tentu cukup untuk mengembalikannya ke barisan depan.
Sumber: Ducati | Foto: Gold & Goose










6 Komentar