Jorge Martin merasa sudah tampil maksimal di MotoGP Jepang 2026. Namun, kecepatan Marc Marquez dan kebutuhan untuk mengatur konsumsi bahan bakar membuatnya harus puas finis kedua di Motegi.
Jorge Martin mengakui bahwa Marc Marquez terlalu kuat untuk dikalahkan pada MotoGP Jepang 2026, bahkan ketika dirinya merasa tampil bagus. Pembalap Aprilia itu memberikan perlawanan sengit, tetapi akhirnya finis kedua dengan selisih 1,363 detik dari rivalnya.
Hasil tersebut membuat persaingan gelar semakin ketat. Setelah memenangi Sprint dan balapan utama di Motegi, Marquez kini hanya tertinggal 2 poin dari Martin di puncak klasemen MotoGP 2026.
Martin Sudah Maksimal, Marquez Tetap Lebih Kuat
Berbekal pole position, Martin langsung memimpin selepas start. Performa Aprilia yang meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya memberinya kesempatan untuk bertarung demi memperebutkan kemenangan.
Namun, Marquez terus menekan dan akhirnya mengambil alih posisi pertama di Tikungan 9 pada lap ke-11. Martin berusaha menjaga jarak setelah disalip, tetapi tidak mampu merebut kembali kendali balapan.
“Sepanjang akhir pekan, dia memiliki keunggulan yang tidak saya miliki,” kata Martin kepada TNT Sports.
“Melawan Marc, Anda tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun, baik dalam berkendara maupun mengelola balapan. Jadi, dia memang lebih kuat.”
Martin menegaskan bahwa hasil tersebut bukan karena kurangnya usaha. Ia terus menekan hingga fase akhir, tetapi kecepatan Marquez membuat upayanya mengejar menjadi sangat sulit.
“Saya sudah melakukan yang terbaik dan mencoba menekan sampai akhir. Ritmenya luar biasa cepat. Bahkan saat saya tampil bagus, mustahil untuk mengalahkannya,” ujarnya.
“Saya senang dengan performa saya. Hasilnya memang bukan yang saya inginkan, tetapi kami akan terus melangkah maju.”
Manajemen Bahan Bakar Membuka Peluang bagi Marquez
Selain menghadapi kecepatan Ducati, Martin juga harus memperhitungkan konsumsi bahan bakar. Pada fase tertentu, ia perlu mengatur ritme dan Marquez memanfaatkan kesempatan tersebut untuk merebut pimpinan balapan.
“Saya mampu tampil cukup konsisten di depan. Saya mengalami beberapa masalah dengan konsumsi bahan bakar, jadi harus sedikit menyesuaikannya. Pada saat itulah dia mengambil keuntungan,” jelas Martin.
Pembalap Spanyol itu tetap mencoba membuntuti Marquez, berharap tekanannya bisa memancing kesalahan dan membuka peluang untuk kembali mendekat.
“Saya sudah melakukan yang terbaik. Saya mencoba terus menekan sampai akhir, mungkin memaksanya melakukan kesalahan dan mempersempit jarak. Namun, itu benar-benar sangat sulit.”
Kemajuan Aprilia Jadi Bekal untuk Sisa Musim
Meski gagal meraih kemenangan, Martin melihat sisi positif dari penampilan Aprilia di Motegi. Mereka mampu bersaing di sirkuit yang sebelumnya menjadi tantangan, dengan Martin dan Marco Bezzecchi mengamankan podium kedua dan ketiga.
Martin juga merasakan kemajuan sepanjang akhir pekan, mulai dari sesi pada Sabtu hingga balapan utama. Perkembangan itu memberinya kepercayaan diri untuk menghadapi seri berikutnya.
“Saya rasa di sirkuit tempat Aprilia biasanya kesulitan, akhirnya kami meraih podium pertama dan rekor putaran. Jadi, saya merasa siap menghadapi apa yang akan datang,” katanya dalam konferensi pers setelah balapan.
Meski demikian, Martin menyadari besarnya tantangan dari Marquez. Kemenangan di Jepang merupakan kemenangan Grand Prix keenam pembalap Ducati tersebut dalam sembilan akhir pekan balapan terakhir, sekaligus kemenangan ganda Sprint dan Grand Prix kelimanya dalam periode itu.
“Mari kita lihat apa yang terjadi pada balapan-balapan berikutnya. Saya merasa akan sangat sulit mengalahkannya, tetapi merupakan sebuah keistimewaan bisa bertarung dengan Marc pada fase kejuaraan ini,” tutup Martin.
Sumber: TNT Sports | Foto: Gold & Goose









