Gigi Dall’Igna menghadapi pertarungan yang terasa personal dalam perebutan gelar MotoGP 2026. Aprilia adalah mantan pabrikannya, sementara Jorge Martin dan Marco Bezzecchi pernah menjadi bagian dari keluarga Ducati.
Perebutan gelar MotoGP 2026 mempertemukan Gigi Dall’Igna dengan orang-orang yang mengenal betul perjalanan kariernya. Di kubu Aprilia, ada mantan rekan kerja serta dua pembalap yang sebelumnya membela Ducati.
Situasi itu membuat General Manager Ducati Corse tersebut merasa sedang “melawan masa lalu” dari dua sisi sekaligus.
Aprilia kini menjadi ancaman serius bagi ambisi Ducati untuk mempertahankan gelar. Setelah GP Indonesia, Jorge Martin memimpin klasemen dengan keunggulan hanya 2 poin atas Marc Marquez. Marco Bezzecchi berada di posisi ketiga, tertinggal 46 poin dari Martin, dengan 5 putaran tersisa.
Menghadapi Mantan Pabrikan dan Mantan Pembalap
Sebelum bergabung dengan Ducati pada 2013, Dall’Igna merupakan salah satu tokoh penting dalam proyek balap Aprilia. Kini, pabrikan asal Noale itu menjadi lawan yang harus ia kalahkan untuk membawa Ducati kembali menjadi juara.
Hubungan dengan masa lalunya semakin terasa karena Martin dan Bezzecchi juga pernah mengendarai Desmosedici.
Martin merebut gelar MotoGP 2024 bersama Pramac dengan motor Ducati. Namun, dalam perebutan kursi tim pabrikan untuk musim berikutnya, Ducati memilih Marquez. Martin kemudian melanjutkan kariernya bersama Aprilia mulai tahun 2025.
Bezzecchi juga meninggalkan Ducati untuk bergabung dengan tim pabrikan Aprilia pada musim yang sama, setelah sebelumnya membela VR46.
Kini, kedua pembalap tersebut menjadi rival Marquez dalam perebutan gelar. Pertemuan kembali itulah yang disinggung Dall’Igna saat berbicara menjelang GP Indonesia di Mandalika.
“Itu benar. Pada akhirnya, ini adalah masa lalu saya karena pabrikannya,” kata Dall’Igna, dikutip dari Crash.
“Ini juga masa lalu saya karena para pembalapnya, sebab kedua pembalap Aprilia pernah menjadi pembalap kami.”
“Saya tidak terlalu memikirkannya, tetapi tentu saja ini pertanyaan yang menarik.”
“Jika Harus Dikalahkan, Lebih Baik oleh Teman Sendiri”
Persaingan di lintasan tidak menghapus kedekatan Dall’Igna dengan orang-orang di Aprilia. Ia mengaku masih memiliki banyak teman di pabrikan yang pernah menjadi bagian penting dari kariernya.
Karena itu, ia bisa melihat sisi personal dari pertarungan antara dua pabrikan Italia ini.
“Saya punya banyak teman di Aprilia. Tentu saja, jika ada yang harus mengalahkan kami, saya rasa lebih baik mereka adalah teman-teman kami,” ujarnya.
Meski demikian, Dall’Igna tetap ingin membawa Ducati memenangkan persaingan. Dalam kesempatan yang sama, ia menekankan pentingnya tetap percaya diri dan terus berusaha selama peluang untuk menjadi juara masih terbuka.
Ia juga memuji keyakinan Marquez, yang dinilainya mampu memahami apa yang harus dilakukan tanpa perlu dorongan tambahan.
Dall’Igna Ingin Lebih Banyak Pembalap Ducati Bersaing
Menjelang 5 putaran terakhir, Aprilia memiliki 2 pembalap di 3 besar klasemen. Martin memimpin perburuan gelar, sementara Bezzecchi masih menjaga peluangnya.
Di pihak Ducati, Marquez menjadi tumpuan utama dalam persaingan gelar juara. Dall’Igna mengakui bahwa ia lebih menyukai situasi ketika beberapa pembalapnya berada di depan dalam persaingan.
“Saya pikir semakin banyak pembalap yang Anda miliki di barisan depan, semakin baik. Jadi, saya ingin memiliki lebih dari satu pembalap,” katanya.
Keunggulan 2 poin Martin atas Marquez membuat setiap hasil di sisa seri menjadi penting. Menurut data resmi MotoGP, selisih tersebut menyamai rekor setelah putaran ke-17 pada 2022, ketika Fabio Quartararo hanya unggul 2 poin dari Francesco Bagnaia.
Persaingan berikutnya berlanjut di Phillip Island. Bagi Dall’Igna, upaya membawa Ducati mempertahankan gelar akan kembali mempertemukannya dengan mantan pabrikan dan pembalap yang kini berada di pihak lawan.
Sumber: MotoGP | Foto: Gold and Goose









