Pitlane yang panjang membuat strategi satu pit stop terlihat ideal. Namun, degradasi ban yang tinggi justru dapat memaksa tim melakukan pergantian ban sebanyak dua kali di F1 GP Spanyol 2026.
Formula 1 hampir pasti tidak akan menyaksikan balapan dengan enam kali pit stop di Grand Prix Spanyol 2026, seperti yang sempat dilontarkan George Russell seusai sesi latihan bebas pertama.
Namun, candaan pembalap Mercedes tersebut menggambarkan persoalan nyata yang dihadapi seluruh tim di Madring: ban mengalami penurunan performa jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan.
Data dari sesi latihan Jumat menunjukkan bahwa tim harus memilih antara strategi satu pit stop yang berisiko membuat ban kehilangan performa atau strategi dua pit stop dengan kerugian waktu besar. Tidak ada pilihan yang benar-benar ideal.
Pitlane Panjang Menguntungkan Strategi Satu Pit Stop
Panjang jalur pit di Madring membuat setiap pergantian ban menghabiskan waktu sekitar 24 detik. Angka tersebut cukup besar untuk mendorong tim membatasi jumlah pit stop selama balapan.
Secara teori, strategi satu pit stop menjadi pilihan yang paling logis. Pembalap hanya perlu menanggung kerugian waktu masuk pit satu kali dan memiliki peluang lebih kecil untuk kembali ke lintasan di tengah kepadatan.
Masalahnya, strategi tersebut menuntut satu set ban yang bertahan sangat lama. Berdasarkan tingkat degradasi yang terlihat pada Jumat, mempertahankan performa ban selama satu stint panjang diperkirakan tidak akan mudah.
Strategi dua pit stop menawarkan ban yang lebih segar dan kecepatan yang lebih konsisten. Namun, tambahan kunjungan ke pit berarti pembalap harus mengejar kerugian waktu sekitar 24 detik melalui keunggulan performa ban.
Degradasi Ban di Luar Perkiraan
Tim-tim F1 terkejut dengan tingginya tingkat degradasi ban saat pertama kali menjalankan simulasi jarak panjang di Madring.
Permukaan lintasan baru tersebut sangat mulus, tetapi memberikan tingkat cengkeraman yang tinggi setelah mendapatkan perawatan menggunakan semprotan air bertekanan tinggi. Kombinasi itu, ditambah rangkaian tikungan cepat, membuat mobil lebih mudah mengalami sliding.
George Russell mengatakan tingkat degradasi pada FP1 begitu tinggi sehingga, berdasarkan perhitungan murni, strategi enam pit stop sempat terlihat sebagai pilihan tercepat.
Kondisinya membaik pada FP2 dan diperkirakan akan kembali membaik seiring bertambahnya lapisan karet di lintasan. Meski demikian, Russell menilai ketahanan ban masih menjadi “tanda tanya besar” menjelang balapan.
Ketidakpastian bertambah setelah kecelakaan Arvid Lindblad memicu bendera merah pada sesi FP2. Interupsi tersebut memangkas waktu simulasi long run dan membuat sejumlah tim kehilangan kesempatan untuk mengumpulkan data ban yang lebih lengkap.
Graining Depan dan Overheating Belakang
Menurut Pirelli, terdapat dua persoalan utama yang harus dikendalikan oleh tim selama balapan.
1. Graining pada Ban Depan Kiri
Masalah paling kompleks adalah graining pada ban depan kiri. Kondisi ini terjadi ketika permukaan karet mengalami tekanan tinggi, bergeser, lalu membentuk butiran yang menempel pada tapak ban.
Akibatnya, area ban yang bersentuhan langsung dengan lintasan berkurang. Mobil kemudian kehilangan cengkeraman dan mengalami understeer, terutama di pertengahan tikungan.
Oscar Piastri menyebut pengelolaan graining sebagai masalah terbesar McLaren pada Jumat dan menggambarkannya sebagai “mimpi buruk”.
Masalah tersebut semakin sulit dikendalikan di Madring karena banyak tikungan dilalui dengan kecepatan tinggi. Salah satunya adalah La Monumental, tikungan panjang dengan kemiringan 24 persen yang menghasilkan beban vertikal tertinggi pada kalender F1 2026, menurut analisis awal Pirelli.
2. Ban Belakang Terlalu Panas
Ban belakang juga berisiko overheating. Madring memiliki banyak rangkaian tikungan tanpa lintasan lurus yang cukup panjang untuk membantu menurunkan suhu ban.
Ketika mobil terus mengalami sliding, suhu ban semakin meningkat dan cengkeraman berkurang. Pembalap kemudian harus melambat untuk mengendalikan suhu, sehingga kehilangan waktu putaran.
Gabungan dari graining pada ban depan dan overheating pada ban belakang menghasilkan degradasi termal yang sangat tinggi.
Penurunan Performa Mencapai 0,3 Detik per Lap
Kepala Teknisi Pirelli, Simone Berra, memperkirakan penurunan performa ban mencapai sekitar 0,2 hingga 0,3 detik per lap berdasarkan beberapa simulasi long run pada FP2.
Angka tersebut berada di luar perkiraan awal Pirelli. Meski evolusi lintasan dan perubahan set-up mobil dapat mengurangi degradasi pada Minggu, strategi ban tetap diperkirakan menjadi faktor penentu.
Pirelli membawa tiga kompon untuk GP Spanyol, yakni C2 sebagai ban keras, C3 sebagai ban medium, dan C4 sebagai ban lunak. Setelah latihan Jumat, seluruh tim, kecuali Audi, memilih menyimpan dua set ban keras sebagai persiapan menghadapi balapan.
Keputusan itu menunjukkan bahwa dua stint panjang menggunakan ban keras masih dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan paling aman.
Terjebak Traffic Bisa Merusak Strategi
Strategi dua pit stop akan semakin berisiko apabila aksi menyalip terbukti sulit dilakukan. Pembalap yang kembali ke lintasan di tengah rombongan bisa kehilangan waktu karena berada di belakang mobil yang lebih lambat.
Udara kotor dari mobil di depan juga mengurangi downforce. Kondisi tersebut membuat mobil lebih sering meluncur, meningkatkan suhu ban, dan mempercepat proses degradasi.
Situasi ini dapat mendorong tim terdepan mempertahankan strategi satu pit stop demi menjaga posisi lintasan. Sebaliknya, tim yang memiliki kecepatan tinggi atau tertinggal di belakang dapat memilih dua pit stop untuk menyerang dengan ban yang lebih segar.
Dengan kerugian waktu pit yang besar dan ban yang sulit dipertahankan, GP Spanyol berpotensi menghadirkan strategi berbeda di antara tim. Pertanyaannya bukan lagi pilihan mana yang sempurna, melainkan strategi mana yang membawa kerugian paling kecil.
Sumber: Pirelli & F1 | Foto: XPB Images









