Marc Marquez mengaku sama sekali tidak menikmati Sprint MotoGP Malaysia 2026. Menghadapi hujan yang tak merata, ia memilih menunggu di belakang pembalap terdepan.
SEPANG — Marc Marquez datang ke Sprint MotoGP Malaysia 2026 dengan strategi yang mungkin terdengar janggal bagi seorang pemburu kemenangan: jangan memimpin balapan.
Prakiraan cuaca sebelum start membuat pembalap Ducati itu teringat kembali pengalamannya ketika lintasan berubah dari kering menjadi basah. Ia menyebut Aragon 2014 dan Jerez musim ini sebagai contoh balapan ketika ia mengalami crash dalam situasi tersebut.
“Dari kering ke basah, sepertinya terkadang saya terlalu memaksakan diri. Dari basah ke kering lebih mudah,” ujar Marquez dalam sesi media scrum yang dihadiri TrackSideGP usai Sprint, Sabtu (31/10).
“Jadi, strategi saya jelas: jangan memimpin balapan. Coba berada di belakang pembalap terdepan.”
Sulit membaca hujan di Sepang
Gerimis membayangi balapan Sprint MotoGP Malaysia 2026. Beberapa pembalap masuk pit untuk mengganti motor, sementara kelompok terdepan bertahan dengan ban kering. Hujan deras baru turun setelah finis.
Menurut Marquez, tantangannya adalah mengetahui seberapa banyak kondisi lintasan berubah pada setiap putaran. Hujan di satu bagian sirkuit belum tentu mencerminkan kondisi di bagian lainnya.
“Di Malaysia, Anda tidak tahu bagaimana kondisinya dari satu lap ke lap berikutnya. Misalnya, sektor tiga benar-benar kering, tetapi di sektor dua hujannya lebih banyak,” jelasnya.
Ketika ditanya apakah balapan seperti itu bisa dinikmati saat memperebutkan gelar dunia, jawabannya tegas.
“Tidak. Sama sekali tidak. Hari ini saya sama sekali tidak menikmatinya,” kata Marquez.
“Hari ini benar-benar kerja keras. Mencoba melakukan apa yang perlu kami lakukan, tanpa mencoba melakukan lebih dari itu.”
Mundurnya Martin tidak mengubah pendekatan
Marquez akhirnya finis kedua di belakang Pedro Acosta. Tambahan 9 poin membuat keunggulannya atas Jorge Martin, yang mundur pada akhir pekan di Sepang karena cedera pergelangan tangan, bertambah menjadi 19 poin.
Namun, absennya rival terdekat tidak membuat Marquez merasa perlu mengubah cara balapnya. Ia tetap ingin menyesuaikan tingkat agresivitasnya dengan kebutuhan di lintasan.
“Ketika harus agresif, saya agresif. Ketika harus tenang, saya tenang. Strategi ini sejauh ini berhasil dan membawa saya ke puncak klasemen,” ujarnya.
“Jadi, saya akan mencoba mempertahankan strategi yang sama. Tetapi, seperti biasa, apa pun bisa terjadi.”
Foto: MotoGP








